RSS Feed

Penetapan UNESCO atas Batik Tidak Surutkan Aliran Kritik

JAKARTA, KOMPAS.com – Penetapan batik oleh UNESCO sebagai salah satu dari 76 seni dan tradisi yang masuk dalam daftar warisan budaya bukan benda tidak membuat tokoh pembatik Indonesia Iwan Tirta mengendurkan kritikan terhadap batik Indonesia.

Kritikan demi kritikan untuk menjaga budaya batik dilontarkanya saat diskusi Batik Kreatifitas Budaya dan Teknologi Indonesia di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta, Jumat ( 2/10 ). Ikut hadir pembatik lain, Komar.

Iwan (75) yang sudah membatik sejak tahun 1960 menjelaskan, kaum perempuan Indonesia saat ini merupakan kaum yang pertama meninggalkan batik tulis. Saat ini, belum ada instansi pemerintah yang mendata secara detail pola-pola batik serta daerah yang masih memproduksi batik diseluruh wilayah di Indonesia.

Pengusaha batik tulis di beberapa daerah, kata Iwan, perlahan mulai menghilang seperti di Garut dan Tasikmalaya. Pasar batik sudah dikuasai oleh batik tekstil atau batik cap dengan meninggalkan jati diri batik yaitu garis dan titik. “Menurut saya batik cap atau batik printing bukan seni hanya sebagai jalan pintas,” tegas dia.

Kritikan lain, promosi batik tulis oleh pemerintah ke negara lain tidak melibatkan para antropolog, ilmuwan, ataupun pembatik sendiri. Namun, promosi dilakukan pemerintah bersama ekonom dengan pedagang.

Selain itu, ucap Iwan, perlu ditingkatkan profesionalisme para pengusaha batik tulis khususnya dalam segi desain batik agar dapat terus bertahan. “Pengusaha batik tidak menggunakan seorang desainer khusus. Buat desain hanya tergantung selera sendiri. Yah enggak akan laku,” jelas dia.

Menurut dia yang juga seorang penulis buku tentang motif batik tulis, seorang pembatik harus memaksakan diri menjadi seorang Jawa untuk dapat menghasilkan batik yang baik. Mereka harus belajar bahasa, tarian, alat musik, wayang, serta budaya Jawa lainya. “Itu pupuk seni batik,” ucap Iwan.

Untuk Kemenristek, Iwan memberikan masukan, sudah seharusnya mulai melakukan riset pembuatan kain untuk alas batik yang cocok dengan iklim tropis di Indonesia. Selain itu, perlu dilakukan riset pewarna dan teknik membatik.

Kritikan senada juga dilontarkan pembatik Komar. Menurutnya, minat batik tulis sejak tahun 2008 hingga sekarang terus menurun. Hal itu akibat serbuan batik tekstil yang mengambil motif batik tradisional. Sebagai contoh, motif mega mendung yang terkenal telah di cap secara massal. “Habis di printing. Eggak ada lagi yang mau pake,” tegasnya.

About Berita Batik

Sanggar Batik Nusantara: Jl. Batik Tulis No 9 - 10 Gama Asri Pekalongan

2 responses »

  1. kalo batik tulis membutuhkan waktu yg sangat lama dlam pengerjaannya. makanya banyak pengrajin yg mengambil jalan pintas dengan menggunakan metoda batik cap dan sejenisnya. harga yg ditawarkan jauh lebih murah ketimbang batik tulis. thanks…

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: