RSS Feed

Promosikan Semarang Lewat Batik

BATIK Semarangan yang belum dikenal luas seperti halnya Batik Pekalongan, Solo dan Yogyakarta mendorong Eko Hariyanto perajin Batik Semarang Indah Kampung Batik Gedong No 437 RT 02 RW 02 Kelurahan Rejomulyo Semarang Timur terus mempromosikan Semarang melalui batik yang ia produksi.

Kerajinan batik Semarang sempat mengalami mati suri. Namun sejak lima tahun terakhir ini, Batik Semarang kembali dikembangkan. Bertekad ingin memajukan potensi batik Semarang, Eko lantas belajar membatik yang diadakan Dekranasda Kota Semarang kala itu.

Berbagai pelatihan ia ikuti untuk mengasah kemampuannya dalam membatik. Dengan modal awal Rp 50 ribu, Eko dan istrinya Iin serius menekuni bisnis ini. Berbagai motif identik Kota Semarang telah dihasilkan, seperti Gedung Lawang Sewu, Tugu Muda, pohon asam, burung blekok, burung merak, sriti dan bunga sepatu. Dalam sebulan, omset yang diraih bisa mencapai Rp 6-7 juta.

“Jangan sampai Batik Semarang kurang dikenal. Sebagai perajin saya terus berupaya mempromosikan Semarang melalui kerajinan batik,” katanya baru-baru ini.

Menurutnya, kurang dikenalnya Batik Semarangan karena pembatik di Ibu Kota Jateng itu tidak tersentralisasi di satu tempat seperti halnya dengan yang ada di Pekalongan. Dulu Kampung Batik, menurut sejarahnya sentra pembuatan dan penjualan batik tetapi setelah Jepang masuk dan kondisi tidak aman, Batik Semarangan menghilang.

Oleh sebab itu, untuk mengenalkan produknya, pria lulusan D3 Manajemen Stikubank itu rajin mengikuti pameran di sejumlah kota atas prakarsa Pemkot Semarang. Di antaranya, pameran di Bali, Batam, Banjarmasin, Pontianak dan Jakarta. Sementara pada event Semarang Great Sale (Semargres) 2011, Eko berharap penjualan batiknya bisa meningkat sampai 100 %.

“Sebagai perajin kami menyambut antusias program Semargres. Ajang ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengenal potensi yang ada di Semarang. Utamanya bisa membeli kerajinan Batik Semarang,” harap dia.

Antusiasme Eko ditunjukkan dengan motif baru yang ia hasilkan untuk menyambut Semargres. Sekitar 40 motif baru diperkenalkan di Kampung Batik miliknya serta di sejumlah pameran. Misalnya, motif gang lombok, yang menampilkan gambar kelenteng dan gambar cabai. Adapula motif puspowarno yang menampilkan bunga dalam beragam warna, hingga motif warak, yang merupakan simbol dari Kota Semarang.

Pada 5 Desember lalu, Eko turut berpartisipasi membuat rekor bantal terbesar berukuran 10 meter x 5,4 meter. Bantal raksasa dengan 10 motif batik itu berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri). Keikutsertaan dan ide dari pria berputra empat itu untuk mempromosikan Semarang bukan hanya itu saja.

Pada penutupan Semargres nanti, Eko berencana mewujudkan batik terpatas di atas kain sepanjang 33 meter dan lebar dua meter. Dia menggunakan kain primisima, yang sangat cocok digunakan untuk batik tulis. Kain tersebut didapatkan dari sebuah pabrik tekstil di Yogyakarta.

Batik tidak sekedar warisan budaya saja tapi sekaligus menjadi peluang untuk meningkatkan ekonomi, tidak hanya individu tapi juga lingkungan sekitar. Oleh karena itu, ke depan saya tengah memperjuangkan Kampung Batik di Bubakan itu sebagai sentra wisata budaya,” terangnya.
( Fista Novianti / CN31 )

About Berita Batik

Sanggar Batik Nusantara: Jl. Batik Tulis No 9 - 10 Gama Asri Pekalongan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: