RSS Feed

Green Batik

Saat ini konsep go green kian menjadi gaya hidup masyarakat. Apa yang dapat dilakukan dari selembar kain batik sebagai bagian menjaga lingkungan? Caranya,  dengan membuat batik ramah lingkungan atau green batik.

Disebut green batik, karena dalam proses pewarnaannya, batik  memakai bahan dasar tumbuh-tumbuhan. Selain itu, dalam proses  limbah batik diupayakan tidak merusak lingkungan.

Pertama kali jenis tumbuhan yang digunakan sebagai pewarna alami batik baru satu macam saja, yaitu indigofera atau nila. Tumbuhan ini menghasilkan warna biru pada batik. Namun, semakin hari para perajin batik kian mengembangkan kreativitas dengan menciptakan warna alami lainnya pada batik.

Saat ini, terdapat beragam jenis-jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna kain batik, antara lain :  kayu secang, mahoni, kulit manggis, kulit rambutan, daun jambu, daun mangga, dan kunyit.


Ragam pewarna batik tumbuhan

Kayu secang, biasa digunakan sebagai bahan dasar minuman penghangat tubuh, menghasilkan warna merah pada batik. Sementara untuk warna natural, seperti coklat, krem, dan abu-abu, dapat dihasilkan dari daun jambu, daun alpukat, biji cengkih, jamblang,  mahoni, dan kayu manis.

Kulit manggis digunakan untuk mendapatkan warna ungu.  Kunyit menghasilkan warna kuning dan oranye, dan daun mangga digunakan untuk mendapatkan warna hijau.

Dalam kenyataan, menggunakan pewarna alami tidak mudah. Terutama karena para pembuat batik harus meriset sendiri untuk mendapat warna sesuai keinginan. Di samping itu, membuat pewarna alami butuh waktu lama dan bahan baku cukup besar.

Green batik juga mengacu proses pengelohan limbah. Limbah dari proses pembuatan batik ini mengurangi pencemaran  lingkungan. Air limbah proses celupan kain batik tersebut, terhitung aman digunakan untuk menyiram tanaman karena tidak mengandung bahan kimia.


Keindahan warna batik alami.

Sedangkan ampas tumbuhan pewarna, dapat digunakan sebagai media untuk berkebun. Penggunaan pewarna tumbuhan ini, berarti akan terus menanam beragam tumbuhan sekaligus dapat menghijaukan alam.

Dalam litelatur pembuatan batik banyak pabrik-pabrik batik beroperasi dengan penggunaan yang berlebihan dari mulai air, lilin, pewarna kimia dan zat pemutih yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.

Carmanita

Salah satu perancang memakai batik ramah lingkungan adalah Carmanita. Dia  telah lama dikenal sebagai perancang senior dengan banyak karya di luar negeri, dan begitu mendukung gerakan green batiki. Bagi Carmanita, produk batik dengan warna alam akan mempunyai nilai tambah.

Selain Carmanita, upaya memproduksi batik ramah lingkungan, juga dilakukan oleh Bin House, Batik Komar dan beberapa sentra batik lain. Ada beberapa organisasi seperti Balai Besar Kerajinan dan Batik di Yogyakarta, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Bandung, dan Kementerian Lingkungan Hidup lewat program Clean Batik Initiative (CBI), yang terus mengkampanyekan program batik ramah lingkungan.

CBI sendiri sudah diterapkan di Malaysia dan mengedukasi sampai ke pengusaha kecil dan menengah. CBI adalah bantuan proyek pembangunan yang komprehensif yang mengajarkan metode ramah lingkungan produksi batik kepada pengusaha kecil dan menengah.

Jika konsep Green Batik saja sudah diterapkan di Malaysia, kini saatnya Indonesia  juga sudah harus melaksanakan sehingga Go Green bukan sekedar selogan semata. (*)

sumber : indonesiafinancetoday.com

About Berita Batik

Sanggar Batik Nusantara: Jl. Batik Tulis No 9 - 10 Gama Asri Pekalongan

One response »

  1. Pingback: Desainer Mexico Ingin Padukan Batik-Motif Mexico « Berita Batik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: