RSS Feed

Nelson Mandela dan Filosofi Batik

Nelson Mandela

Nelson Mandela

Liputan6.com, Afrika Selatan : Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela wafat pada usia 95 tahun. Banyak kenangan dan kesan yang tertinggal oleh mantan Duta Besar RI untuk Afrika Selatan, Sungeng Raharjo. Salah satunya yang paling diingat adalah filosofi pembuatan batik.

Menurut Sugeng, filosofi pembuatan batik yang memerlukan kesabaran dan keharmonisan merupakan cermin kuat kepribadian Mandela. Bahkan, terkesan Mandela mencintai produk asli Indonesia itu dengan mengenakan batik pada banyak acara-acara resmi. Termasuk pada acara penutupan Piala Dunia tahun 2010.

Dikutip dari BBC, Jumat (6/12/2013), Sugeng mengatakan, perkenalan pertama Mandela dengan batik terjadi pada tahun 1990. Atau beberapa bulan setelah ia dibebaskan dari penjara Pulau Roben.

Indonesia termasuk salah satu negara pertama yang dikunjungi Mandela sebagai presiden Kongres Nasional Afrika (ANC).

“Pada akhir Oktober 1990–lawatan pertama ke luar negeri, salah satunya adalah Indonesia. Saat itu pemerintah memberikan baju batik,” kata Sugeng.

Dalam pertemuan dengan Presiden Soeharto, Mandela langsung mengenakan batik pemberian pemerintah Indonesia. Sejak itu, presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan ini sering memakai batik.

Simbol Kedekatan

“Semua motif suka, dan filosofi dari pembuatan batik inilah yang bisa ditarik dengan kepribadian beliau,” kata Sugeng yang menjadi notulen saat Mandela bertemu Presiden Suharto.

“Pembuatan batik mencerminkan kesabaran dan keharmonisan dalam menentukan corak dan warna. Inilah ciri kepribadian Mandela,” lanjut Sugeng.

Kata Sugeng, kesabaran ini dibuktikan dengan keteguhan hatinya untuk memperjuangkan kesetaraan masyarakat Afrika Selatan dan harus dipenjara selama 27 tahun. Penantian 27 tahun itu akan melemah bila tidak ada kesabaran.

Sejak mendapatkan hadiah batik dari Indonesia itu, Mandela terkesan dengan warna dan corak batik. Mandela mulai mengenakannya sebagai simbol kedekatan Indonesia dan Afrika Selatan.

Kios Batik

“Pernah saya sekali bertemu dengan beliau saat mengadakan kuliah di Johanessburg, dan beliau masih mengenakan batik, usia saat itu 88 tahun — sekitar 7 tahun lalu, beliau masih sehat,” tambah Sugeng.

Sementara itu Michael Pasaribu–warga Indonesia yang memiliki kios batik di Pretoria–mengatakan minat masyarakat Afrika Selatan terhadap batik semakin meningkat terutama sejak Mandela tidak lagi menjabat sebagai presiden.

“Awalnya masyarakat tidak ingin menggunakan batik seperti beliau, karena beliau itu tokoh dan masyarakat segan untuk meniru beliau,” kata Michael yang telah tinggal di Afrika Selatan selama 17 tahun.

“Namun setelah beliau tidak aktif lagi di kantor presiden, banyak yang mulai tertarik dan menanyakan di mana bisa membeli batik,” tambahnya.

Michael mengatakan Kedutaan Besar Indonesia di Afrika Selatan sering mengadakan bazar untuk menampung minat masyarakat terhadap batik ini. (Osc/Riz)

About Berita Batik

Sanggar Batik Nusantara: Jl. Batik Tulis No 9 - 10 Gama Asri Pekalongan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: